EKONOMI MIKRO DAN MAKRO

 

 

A. Pengertian Ekonomi Mikro

Ilmu ekonomi sering dibedakan menjadi mikro dan makro ekonomi. Mikro ekonomi adalah bagian dari ilmu ekonomi yang berkenaan dengan kegiatan-kegiatan ekonomi dari unit-unit individual, sebagai bagian kecil dari keseluruhan kegiatan ekonomi, seperti kehiduan suatu perusahaan, harga dan upah, pembagian pendapatan total di antara berbagai industri.  Jelasnya, ekonomi mikro mempelajari tindakan-tindakan ekonomis dari para individu, dan kumpulan-kumpulan individu dalam kedudukannya sebagai konsumen, maupun pemilik faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, pemilik bahan mentah, skill, dan pemilik kapital.

Alat utama dari ekonomi mikro adalah teori harga, teori harga berguna antara lain untuk menjelaskan bagaimana sumber atau faktor produksi dipergunakan dalam suatu jenis produksi sesuai dengan penggunaan alternatif. Disamping itu teori harga akan memersoalkan bagaimanakah barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan dalam masyarakat itu dibagikan kepada para anggota masyarakat (soal pembagian pendapatan )

Pendek kata, dapatlah dikatakan bahwa dengan terbentuknya harga, terbentuk pulalah 3 hal sekaligus, yaitu :

  1. Tercapainya perimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar.
  2. Tercapainya suatu proses perimbangan pembagian alat-alat produksi di berbagai cabang produksi. Sehingga terjadilah permintaan dan penawaran faktor produksi dan selanjutnya terbentuklah harga faktor-faktor produksi
  3. Terbentuknya harga berarti terbentuknya pendapatan bagi mereka sebagai pelaku ekonomi

 

Di dalam menyusun teori ekonomi mikro menggunakan beberapa anggapan-anggapan , yaitu :

  1. Bahwa masing-masing subjek ekonomi senantiasa bertindak ekonomis-rasional (economic rationality).  Bagi konsumen, mereka dianggap senantiasa berusaha mencapai kekpuasan maksimum atas setiap barang yang dikonsumsi dari setiap pengeluaran pendapatannya. Sebaliknya bagi produsen dianggap[ senantiasa berusaha mencapai keuntungan maksimum
  2. Bahwa setiap subjek ekonomi senantiasa dianggap memiliki informasi informasi yang cukup lengkap atas segala sesuatu yang terjadi di pasar
  3. Tingkat mobilitas setiap subjek ekonomi adalah tinggi sehingga satu sama lain dapat segera untuk menyesuaikan diri dengan segala perubahan apapun yang terjadi di pasar

Atas dasar anggapan itu maka subjek ekonomi akan dapat mencapai kemakmurannya, dan sistem ekonomi itu sendiri akan djjapat berkembang secara efisien, pertumbuhan yang semakin meningkat, dan kesempatan kerja penuh ( full employment )

 

B. Pembagian Teori Ekonomi Mikro

Teori ekonomi mikro lazim dibedakan menjadi tiga (3), yaitu :

1. Teori Harga

Teori harga menjelaskan terbentuknya harga oleh permintaan dan penawaran barang / jasa di pasar

 

2. Teori Produksi

Teori produksi membahas masalah-masalah biaya produksi, tingkat produksi yang paling menguntungkan

  1. Teori Distribusi

Teori distribusi membahas tentang distribusi pendapatan bagi para pemilik faktor-faktor produksi yang telah memberikan prestasinya dalam proses produksi.

 

C. Pengertian Ekonomi Makro

Ekonomi makro adalah bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari masalah ekonomi secara keseluruhan ( totalitet / aggregatif ). Maksud digunakannya istilah aggregatif adalah untuk menekankan bahwa yang menjadi yang menjadi pusat perhatiannya adalah variabel-variabel total, seperti : pendapatan total (nasional/masyarakat/seluruh), tabungan masyarakat, investasi total, konsumsi nasional atau pembelanjaan masyarakat, produksi nasional, investasi total, dan bukannya penganalisaan yang terperinci atas komponen-komponen yang bersifat total itu. Alat utama ekonomi makro adalah pendapatan nasional dan analisa pendapatan nasional. Analisa pendapatan nasional berguna untuk mengukur secara statistik tentang besarnya pendapatan nasional, konsumsi nasional, tabungan dan investasi nasional. Disamping itu berguna untuk menunjukkan dan menentukan hubungan-hubungan sistematis, sehingga dapat menjelaskan perubahan –perubahan yang dialami oleh variabel-variabel total itu sepanjang masa.

Jelasnya, kalau ekonomi makro mempelajari tindakan-tindakan ekonomis tingkat masyarakat atau negara, sehingga yang dipersoalkan adalah tentang perekonomian secara keseluruhan, seperti masalah pengangguran, kesempaan kerja, pengeluaran negara, pendapatan nasional dan sebagainya.

Pelajaran-pelajaran tentang ekonomi moneter, teori konjungtur, dan ekonomi internasional, kesemuanya adalah masuk ke dalam kategori ekonomi makro.

 

D. Ketidak-mutlakan tentang Pembagian Ilmu Ekonomi menjadi Mikro dan Makro

Pembagian ilmu ekonomi menjadi mikro dan makro adalah tidak mutlak, sebab pengertian total merupakan penjumlahan dari satuan-satuan yang lebih kecil, seperti pendapatan nasional ( pada ekonomi makro) adalah penjumlahan dari pendapatan-pendapatan rumah tangga yang terdapat dalam suatu masyarakat. Dengan membagi ilmu ekonomi menjadi mikro dan makro, tidaklah berarti bahwa masalah pendapatan itu tidak dipersoalkan lagi dalam ekonomi mikro, dan persoalan harga tidak dibicarakan lagi dalam ekonomi makro.

Kedua persoalan itu sama-sama dibahas diantara keduanya, hanya saja pembahasannya berbeda. Dalam ekonomi makro persoalan harga bukanlah harga barang / jasa individual melainkan harga secara totalitet/aggregatif. Sedangkan dalam ekonomi mikro persoalan pendapatan bukanlah secara nasional melainkan pendapatan perseorangan  sebagai balas-jasa (kontra prestasi ) atas pengorbanan yang telah dilakukan di pasar faktor-faktor produksi

Jadi kesimpulannya, perbedaan ilmu ekonomi mikro dan makro itu tidaklah mutlak, sebab keduanya salaing melengkakpi dan keduanya pula merupakan basis dari analisa ekonomi.

( Tunjukkan dengan contoh bahwa antara ekonomi mikro dan makro ada pengaruh secara timbal balik ! )

 

 

D. Latar Belakang  Munculnya Teori Ekonomi Makro

Di lihat dari sejarah pertumbuhannya, ekonomi mikro tumbuh dan berkembang lebih dulu daripada ekonomi makro . Sejak munculnya Adam Smith, dalam bukunya yang berjudul ” An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nation ” , yang lebih populer dengan sebutan The Wealth of Nation, telah berhasil meletakkan dasar-dasar ilmiah bagi lahirnya ilmu ekonomi modern, yang isinya menerangkan cara-cara meningkatkan kekayaan/kemakmuran suatu negara dan bagaimana kekayaan itu didistribusikan. Adam Smith kemudian oleh Karl Mark dijuluki sebagai aliran klasik karena dalam cara menyelesaikan mengenai persoalan ekonomi yang muncul bersifat klasik(kolot). Tradisi klasik itulah yang mendasari bagi perkembangan ilmu ekonomi mikro. Ahli-ahli ekonomi klasik lainnya yang mempelopori tumbuhnya ekonomi mikro, yaitu ;  Alfred Marshall, dalam bukunya ” Principles of economics ”, Thomas Robert Malthus, dalam bukunya yang lebih dikenal dengan ” Essay on The Principles of Population ”. Jean Babtiste Say, yang terkenal dengan hukumnya dan dijadikan dasar pemikiran bagi kaum klasik. Say’s law atau hukum Say yang berbunyi ” Supply always creats it’s own demand ”, Tokoh berikutnya adalah David Ricardo, buku karangannya yang terkenal berjudul ” The Principle of Political Economy and Taxation.  Sedangkan John Stuart Mill, terkenal dengan teorinya yang disebut  “ Law of Reciprocal Demand “. Bahwa harga dalam perdagangan internasional ditentukan oleh hokum permintaan yang timbale balik. Kemudian tokoh-tokoh lainnya seperti JH Von Thunen, dan Nassau William Senior.

Apa yang telah dikembangkan oleh Adam Smith  tentang pemikirannya masalah ekonomi adalah hasil dari kemenangannya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan individu di lapangan ekonomi. Seperti halnya perjuangan kebebasan dan kemerdekaan di lapangan politik yang membuahkan revolusi di Perancis ( 1789 )

Ketika terjadi depresi besar tahun 1930-an yang melanda dunia melahirkan ekonom baru yaitu John Maynard Keynes yang sekaligus merupakan babak baru pemikiran ekonomi yang bersifat makro. Keynes menjadi populer sejak menerbitkan bukunya yang berjudul ” General Theory of Employment, Interest and Money” ( 1936) , Jika aliran kalsik mendasarkan pada bekerjanya mekanisme pasar persaingan maka kelompok Keynesian menganggap perlu adanya campur tangan pemerintah dalam kegiatan perekonomian. Di dalam pembahasan teori ekonomi pendapat klasik yang berpangkal pada hukum Say, ternyata dengan adanya depresi besar, terjadinya over produksi, pengangguran yang hebat, dan laju inflasi yang tinggi membuktikan bahwa pandangan klasik dapat disebut sebagai teori yang gagal.

Keynes berpendapat bahwa teori klasik adalah suatu teori ekonomi yang special untuk proses ekonomi full employment bukannya teori ekonomi umum (general) yang berlaku pada setiap tingkat employment . Proses ekonomi tidak selamanya berjalan pada tingkat full employment, sehingga tidak akan terjadi over produksi, tidak ada pengangguran dan keadaan perekonomian senantiasa menuju kearah titik keseimbangan. Padahal proses ekonomi sering pula terjadi pada tingkat under employment sehingga bisa saja terjadi penyakit ekonomi, yaitu pertumbuhan yang sangat lamban, terjadi pengangguran, inflasi, stagflasi.

Menurut Keynes bahwa depresi dan pengangguran yang hebat dapat diatasi dengan jalan memperbesar konsumsi dan pendapatan masyarakat sehingga menimbulkan daya beli / permintaan efektif masyarakat . Untuk itu maka perlu adanya campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi masyarakat seperti mengadakan pekerjaan umum ( public work) untuk masyarakat. Dengan jalan itu maka konsumsi dan pendaatan masyarakat serta daya beli akan bertambah dan over produksi dapat diserap oleh masyarakat. Dalam perkembangannya, pendukung teori Keynes menyatakan bahwa campur tangan pemerintah diperlukan melalui kebijakan fiskal dan moneter untuk meningkatkan permintaan efektif masyarakat. Campur tangan seperti ini pada klasik/tradisional tidak terjadi karena kegiatan pemerintah  hanya dibatasi pada pertahanan dan keamanan, ketertiban (hukum dan peradilan), penyediaan prasarana umum yang tidak dapat disediakan oleh swasta.

Dengan teorinya yang baru maka Keynes telah meruntuhkan teori ekonomi klasik dan kelanjutannya menimbulkan apa yang disebut ” Keynesian Economics ”. Maka dengan adanya Keynesian Economics mendasari berkembangnya ekonomi makkro yang banyak menguasai cara berfikir ekonomis masa sekarang.

 

E. Masalah Yang Dihadapi Pemerintah di Bidang Ekonomi

Sebelum membahas tentang masalah tersebut, perlu untuk kita ketahui terlebih dahulu tentang :

1. Apa tujuan ilmu ekonomi itu sehingga kita tahu sasaran-sasaran pokok yang akan dituju dalam mencapai kemakmuran.

2. Sumbangan ilmu ekonomi terhadap peningkatan kemakmuran pelaku ekonomi yaitu bagi konsumen, produsen dan pemerintah

3. Pembangunan ekonomi di negara berkembang, mengingat Indonesia termasuk negara yang sedang berkembang

4. Masalah yang dihadapi pemerintah di bidang ekonomi

 

Keterangan

1. Tujuan Ilmu Ekonomi

Ilmu ekonomi bertujuan untuk mencari hubungan peristiwa-peristiwa ekonomi di masyarakat baik yang bersifat causal maupun fungsional dan menguasai peristiwa-peristiwa tersebut agar dapat mencari dan mengatasi persoalan yang timbul guna meningkatkan kemakmuran masyarakat, baik bagi orang per orang maupun masyarakat secara keseluruhan..

Berdasarkan tujuan ilmu ekonomi tersebut maka ada 5 (lima) sasaran yang akan dicapai untuk meningkatkan kemakmuran, yaitu :

  1. Pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan produk per kapita dalam jangka panjang. Ukuran kenaikan produk per kapita itu ditunjukkan dengan meningkatnya output secara keseluruhan selama satu tahun yang dikenal dengan istilah GNP. Naik turunnya produk per kapita ditentukan oleh naik turunnya GNP dan populasi (jumlah penduduk).

Dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan ( adil, makmur dan stabil) maka unsur pertumbuhan ekonomi tersebut harus ada sebab bila syarat itu tidak terwujud hal itu tidak ada gunanya karena yang diratakan adalah kemiskinan belaka .

 

b.      Distribusi pendapatan yang adil

Masalah keadilan termasuk distribusi pendapatan yang adil merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan untuk mencapai tujuan pembangunan setiap negara. Jika pembangunan tidak disertai dengan keadilan maka yang terjadi adalah kemakmuran dalam ketidakstabilan yaitu adanya kecenderungan terjadinya gap atau jurang pemisah yang semakin melebar antara yang kaya dan yang miskin dan sebaliknya jika pembangunan tidak diikuti dengan kemakmuran maka yang terjadi adalah keadilan dalam kemiskinan

 

c.       Kesempatan kerja (employment)
            Kesempatan kerja adalah suatu keadaan yang menggambarkan banyaknya lapangan kerja yang tersedia bagi angkatan kerja atau bagi pencari kerja. Menurut teori Keynes masalah kesempatan kerja tergantung pada permintaan efektif yaitu pengeluaran masyarakat untuk konsumsi ( C ) barang dan jasa dan pengeluaran investasi( I ) Apabila lapangan pekerjaan yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah penduduk yang mencari pekerjaan maka akan terjadi pengangguran. Pengangguran mempunyai dampak yang kurang menguntungkan terhadap kegiatan ekonomi masyarakat sehingga akan menurunkan pendapatan per kapita dan menurunnya kemakmuran masyarakat itu sendiri. Akibat buruk lainnya seperti : menimbulkan ketidakstabilan di bidang sosial dan politik, menunda perkembangan ekonomi masyarakat sebab alokasi faktor produksi lebih banyak tertuju ke arah investasi yang sifatnya sosial dari pada investasi capital

 

d.      Stabilitas harga

Adanya fluktuasi harga menggambarkan ketidak seimbangan pasar dan perekonomian tidak stabil, inilah yang akan membahayakan kehidupan produksi, investasi dan pendapatan nasional  Naik-turunnya harga-harga akan berpengaruh langsung pada permintaan efektif , jika terjadi penurunan permintaan efektif secara keseluruhan maka kecenderungannya adalah bahaya pengangguran dan sebaliknya jika terjadi peningkatan / kelebihan permintaan efektif maka kecenderungannya adalah bahaya inflasi

Oleh karena itu stabilitas harga merupakan faktor penting dalam konsep ekonomi mikro karena akan menentukan hasil produksi dan selanjutnya mempengaruhi keadaan ekonomi makro yaitu besarnya pendapatan nasional yang akan dicapai

 

               e. Efisiensi

Efisiensi menunjukkan keberhasilan yang dapat dicapai dilihat dari segi besarnya sumber yang digunakan atau biaya yang dikeluarkan untuk mencapai hasil kegiatan yang dijalankan. Makin kecil sumber yang digunakan, dengan hasil yang optimal berarti makin efisien.Dengan demikian efisiensi merupakan perbandingan antara sumber atau masukan dengan hasil atau keluaran. Sumber atau biaya mencakup pula pengorbanan yang tak dapat diukur dengan uang, seperti kebosanan, kelelahan, kebisingan, hilangnya semangat kerja, dll

Dengan demikian asumsi rasionalitas ekonomi sama saja dengan prinsip ekonomi dan tindakan efisiensi yang dilakukan oleh para konsumen dan produsen sebagai pelaku ekonomi

  1. Sumbangan Ilmu Ekonomi Bagi Peningkatan Kemakmuran Masyarakat

Ilmu ekonomi sangat banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat baik sebagai rumah tangga atau individu, perusahaan atau dunia usaha maupun bagi seluruh masyarakat atau suatu negara.

Bagi rumah tangga atau individu, ilmu ekonomi besar manfaatnya untuk meningkatkan taraf hidup atau kemakmurannya, melalui pemikiran rasional berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ekonomis dan faktor-faktor ekonomi di dalam mencapai keputusan-keputusan ekonominya. Pertimbangan  ekonomis seperti dapat menentukan pilihan secara tepat dan efisien dalam membelanjakan penghasiloannya. Dan faktor ekonomi, seperti, mampu memperoleh hasil secara maksimal, misalnya dapat menentukan pilihan pekerjaan sesuai dengan minat, kemampuan dan bakat yang dimilikinya. Sehingga di dalam mencapai penghidupannya semakin lama akan semakin terpenuhi dan semakin lebih baik, ini berarti dapat mencapai kemakmuran.

Bagi perusahaan atau dunia usaha ilmu ekonomi besar sumbangannya untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya.Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya dibutuhkan informasi ekonomi yang akurat agar dapat menganalisis dan mengambil keputusan ekonomi yang cepat dan tepat sasaran. Ilmu ekonomi mengajarkan tentang usaha mencapai efisiensi melalui perhitungan-perhitungan yang rasional yaitu dicapainya sejumlah output tertentu dengan biaya produksi yang minimum serta mengajarkan bagaimana tindakan perusahaan untuk mengadakan ekspansi usaha secara tepat sehingga dicapai penghematan-penghematan yang besar dan dicapai keuntungan yang maksimum.

Bagi suatu  negara maka ilmu ekonomi besar sumbangannya dalam rangka mencapai kemakmuran seluruh masyarakat.Untuk mencapai tujuan tersebut, melalui ekonomi terapan seperti politik ekonomi memberikan sumbangan yang besar bagi peningkatan kemakmuran masyarakat. Melalui politik ekonomi dicanangkan pembangunan ekonomi yang bertujuan meningkatkan taraf hidup rakyat, dan dilaksanakan kebijakan moneter, fiskal, upah, produksi, sosial, dan politik internasional yang merupakan alat politik ekonomi dalam mencapai tujuannya. Ini membuktikan bahwa ilmu ekonomi memberikan sumbangan yang besar bagi peningkatan kemakmuran masyarakat suatu negara bahkan lebih besar lagi yaitu dunia .

Dengan ilmu ekonomi bukan berarti segala sesuatunya menjadi beres, sebab ilmu ekonomi hanyalah alat untuk mencapai tujuan, ilmu ekonomi memberikan tawaran tentang asas pemikiran yang rasional, memberikan pedoman dalam berekonomi, memberikan tawaran alternatif. Proses selanjutnya ditentukan oleh subjek ekonomi yang melaksanakan, ini berarti dituntut pelaku ekonomi yang profesional baik para tenaga pimpinan (eksekutif) perusahaan aparat negara maupun para individu, dalam masyarakat untuk menerapkan ilmu ekonomi secara hati-hati dan bertanggungjawab dalam rangka menuju kemakmuran yang diharapkan bagi para pelaku ekonomi yang bersangkutan.

 

  1. Pembangunan ekonomi negara berkembang

Motif penggerak yang paling kuat bagi negara berkembang untuk maju adalah keinginan untuk berdiri sejajar dengan negara-negara yang maju lainnya. Biasanya negara berkembang adalah neara bekas jajahan maka sudah barang tentu sisa-sisa kemiskinan , kebodohan dan keterbelakangan masih tampak dalam perikehidupan masyarakatnya. Di samping itu adanya masalah kelebihan tenaga kerja dan adanya pengangguran yang tersembunyi. Maka dari itu, usaha untuk mengikis semuanya memerlukan waktu yang tidak pendek, dan cara yang paling tepat untuk memperbaiki dan memajukan adalah dengan pembangunan sebab dengan pembangunan membuka kesempatan untuk memungkinkan adanya perubahan-perubahan menuju ke arah perkembangan yang lebih baik yaitu adanya keluwesan peradaban. Sebab dengan keluwesan peradaban di samping dapat mengubah struktur masyarakat dan perekonomian, juga dapat membuka pikiran sehingga dapat memberikan dasar yang kuat bagi kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan

Negara-negara berkembang dewasa ini memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan negara-negara yang relatif sudah berkembang(maju). Menurut Baldwin dan Meier sifat-sifat tersebut secara ekonomi memiliki 6 karakteristik, yaitu :

  1. Sebagai produsen barang-barang primer ( primary producing coutries )
  2. Mengalami masalah tekanan penduduk (population pressure)

Masalah tekanan penduduk ini ditandai dengan 3 bentuk, yaitu :

1)    Adanya pengangguran di daerah pedesaan

2)    Tingginya tingkat kelahiran

3)    Turunnya tingkat kematian

  1. Sumber-sumber alam belum banyak dikembangkan / diolah ( under-development)
  2. Penduduk masih terbelakang ( backwardness )
  3. Kekurangan modal ( capital deficiency )

Konsekuensi yang sangat dilematis bagi negara berkembang sebagai akibat kekurangan modal adalah adanya suatu kegiatan perekonomian yang sulit dipecahkan, keadaan seperti ini lebih populer disebut dengan “lingkaran tak berujung pangkal ” ( vicious circle )

  1. Orientasi ke perdagangan luar negeri ( International trade oriented )

Disamping itu negara-negara berkembang, jika dilihat tidak hanya dari sifat-sifat ekonomi (seperti oleh Baldwin & Meier ) akan tetapi juga kondidi sosialnya maka dapatlah disebutkan ciri-cirinya, antara lain :

  1. Pendapatan perkapita dan tingkat tabungan adalah rendah
  2. Sebagian penduduknya hidup di sektor pertanian dan hasil-hasil pertanian biasanya berupa bahan mentah primer
  3. Di sektor pertanian biasanya mengalami kekurangan kesempatan kerja dan terdapat pengangguran tersembunyi
  4. Industri utamanya adalah pertanian, kehutanan, dan petambangan
  5. Kepadatan penduduk di pedesaan tinggi
  6. Tingkat kelahiran tinggi dan tingkat harapan hidup pada waktu lahjir rendahTingkat pendidikan rendah dan angka buta aksara tinggi
  7. Pengangguran tenaga kerja anak-anak sangat besar
  8. Kedudukan wanita pada umumnya masih rendah
  9. Kurangnya fasilitas transpor dan kumunikasi terutama di daerah pedalaman
  10. Tingkat kredit dan perdagangan masih rendah
  11. Sangat peka terhadap siklus internasional

Dengan adanya kondisi sosial ekonomi negara berkembang tersebut maka dalam melaksanakan pembangunan nasionalnya menghadapi beberapa kesulitan atau hambatan.

Menurut Baldwin dan Meier hambatan-hambatan tersebut adalah :

  1. Adanya ketidak-sempurnaan pasar ( market imperfection)

Yang dimaksud ketidak-sempurnaan pasar adalah menyangkut seperangkat masalah yang meliputi :

1)    Ketidak-luwesan adanya faktor-faktor produksi yang ada

2)    Struktur sosial yang tidak luwes ( tidak mudah berubah )

3)    Harga-harga kurang luwes

4)    Kurangnya pengetahuan tentang pasar

5)    Kurangnya spesialisasi

Semua hambatan tersebut menjadi penghalang bagi alokasi faktor produksi secaran optimum sehingga akan menghambat pula kelancaran proses pembangunan

 

  1. Adanya lingkaran tak berujung pangkal ( vicious circle )

Istilah tersebut dikenal pula dengan sebutan “lingkaran setan” karena dijumpainya berbagai masalah yang saling kait mengkait satu sama lain sehingga sulit menentukan sebab ( pangkalnya ) dan akibat ( ujungnya )

Secara skematis lingkaran setan tersebut digambarkan sebagai berikut :

 

 

  1. Adanya kekuatan secara internasional yang mengganggu stabilitas ekonomi negara berkembang. Kekuatan tersebut lebih banyak berasal dari negara-negara maju yang dampaknya dalam perdagangan international akan lebih banyak dinikmati negara-negara yang kuat ekonominya sehingga negara-negara berkembang semakin tergantung pada negara-negara lain

 

Menurut Michael P Todaro, seorang profesor ilmu ekonomi di New York University dalam bukunya  “ Economic Developments “ ada 7 masalah utama yang dihadapi oleh negara-negara berkembang , yaitu :

  1. Standar hidup yang rendah, ini ditandai dengan:

1)     Pendapatan nasional per kapita

2)     Tingkat pertumbuhan relatif pendapatan nasional dan pendapatan per kapita

3)     Tingkat kemiskinan

4)     Kesehatan

5)     Pendidikan

  1. Produktivitas yang rendah, ini ditandai dengan:

1)     Sumber daya manusia yang tidakmemadai

2)     Kesehatan fisik yang rendah

  1. Tingkat pertumbuhan penduduk dan beban ketergantungan yang terlampau tinggi
    1. Tingkat pengangguran penuh dan terselubung yang terlalu tinggi dan terus melonjak
    2. Ketergantungan terhadap produksi pertanian dan ekspor barang-barang primer

1)     Tingkat produktivitas pertanian yang rendah

2)     Ketergantungan ekspor primer

  1. Sistem hukum dan infrastruktur yang tidak mapan
  2. Ketergantungan yang dominan pada dunia internasional

 

Menurut Prof Sumitro Djojohadikusumo bahwa negara-negara berkembang mempunyai 2 (dua ) kelemahan, yaitu kelemahan yang bersifat struktural dan kelemahan yang bersifat konjungtural. Kelemahan struktural bersumber dari dalam negeri, sedangkan kelemahan konjungtural bersumber dari luar ngeri. Kelemahan-kelemahan tersebut saling kait-mengkait artinya kelemahan struktural akan semakin memperkuat kelemahan konjungtural dan sebaliknya kelemahan konjungtural akan mempengruhi (menghambat)struktur ekonomi dalam negeri

Jadi secara historis negara berkembang ditandai dengan keadaan-keadaan seperti tersebut di atas yang merupakan hambatan dalam pembangunan nasionalnya. Adanya hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembangunan itulah, maka negara-negara berkembang dalam mengejar tingkat pertumbuhan ekonomi mengalami kemacetan atau pertumbuhan yang kecil saja. Berbeda dengan negara yang sudah maju, seperti : Amerika Serikat, Jepang, Inggris dan Perancis, pertumbuhan ekonomi mengalami kemajuan yang pesat karena perkembangan jumlah penduduk justru dapat meningkatkan produksi sekaligus menyerap produksi yang dihasilkan. Hal itu disebabkan karena penduduk sebagai faktor produksi memiliki kapasitas yang tinggi. Ini berarti tingkat pertumbuhan penduduk juga disertai dengan meningkatnya penghasilan masyarakat

 

  1. Masalah yang dihadapi Pemerintah di Bidang Ekonomi

Studi atau telaah tentang masalah yang dihadapi pemerintah dalam kontek negara berkembang khususnya di bidang ekonomi pada prinsipnya tidak hanya tertuju pada suatu  strategi pembangunan ekonomi yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi yang pesat saja, namun yang perlu mendapat perhatian adalah masalah kemiskinan, keterbelakangan, lapangan kerja dan pemerataan pendapatan.

Batas garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1999 mengacu pada kebutuhan minimum 2.100 kilo kalori per kapita per hari ditambah dengan kebutuhan minimum non makanan yang merupakan kebutuhan dasar seseorang yang meliputi papan, sandang, sekolah, transportasi serta kebutuhan mendasar lainnya. besarnya nilai pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan mendasar dasar minimum makanan dan non makanan tersebut disebut garus kemiskinan. Penduduk yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar minimum dikategorikan sebagai penduduk miskin.

  1. 1.      Kemiskinan

Kebijaksanaan pemerintah yang berkaitan dengan perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat sudah dimulai sejak Pelita. Pada  PJPT I terlihat cukup berhasil dalam program ini. Indikator keberhasilan ini dapat dilihat dari berkurangnya jumlah penduduk miskin, yaitu dari sekitar 54,2 juta jiwa pada tahun 1976 dan 27,2 juta jiwa pada tahun 1990 akhirnya tinggal 22,5 juta jiwa pada tahun 1996.

Sejak masa order baru, pemerintah melalui  kebijakan trilogi pembangunan terus mengupayakan mengentaskan kemiskinan. Program Inpres Desa, Kredit Modal Kerja Permanen, Intensifikasi Khusus (INSUS), Pengembangan Kawasan Terpadu (PKT), Biman, Inmas, Program Bapak Angkat dan Anak Angkat, wajib belajar dan sebagainya, merupakan upaya nyata pemerintah dalam usaha mengangkat mereka yang masih berada di bawah garis kemiskinan.

Di samping itu masih terdapat tiga program penanggulangan kemmiskinan yang secara langsung diarahkan pada penduduk miskin yaitu :

1)     Penyediaan kebutuhan pokok untuk keluarga miskin, contoh pengadaan raskin.

2)     Pengembangan sistem jaminan sosial.

3)     Pengembangan budaya masyarakat miskin.

  1. 2.      Keterbelakangan

Indonesiamasih termasuk golongan negara yang sedang membangun khususnya bila ditinjau dari segi kemajuan teknologi, ekonomi, pelayanan kesehatan, tingkat pemeliharaan barang-barang umum, disiplin maupun penghargaan terhadap waktu. Keterbelakangan segi ekonomi terletak pada rendahnya pendapatan per kapita, terbatasnya pasar, rendahnya tingkat spesialisasi dan rendahnya penggunaan uang giral per kapita.

  1. 3.      Lapangan Kerja

Penciptaan dan perluasan lapangan kerja terus diupayakan terutama melalui peningkatan dan pemerataan pembangunan industri, pertanian, dan jasa yang mampu menyerap banyak tenaga kerja serta peningkatan pendapatan masyarakat.

Bertambahnya angkatan kerja dari tahun ke tahun akibat dari pertumbuhan penduduk memaksa peningkatan kesempatan kerja untuk menyerap tambahan angkatan kerja.

Namun dengan krisis ekonomi yang dialami bangsa Indonesia sejak tahun 1997, jumlah pengangguran meningkat pesat. Dari data yang ada menunjukkan bahwa pengangguran terbuka banyak terdapat di daerah perkotaan, sedangkan pengangguran setengah terbuka banyak terdapat di daerah pedesaan. Banyak tenaga kerja yang akhirnya berpindah ke wilayah perkotaan dan mempengaruhi tingkat mobilitas angkatan kerja dari desa ke kota. Karena lapangan kerja formal terbatas, lapangan usaha informal dan usaha keluarga merupakan jalan keluar sementara dan menjadikan angkatan kerja sektor informal meningkat.

Kualitas angkatan kerja yang dicerminkan melalui tingkat pendidikan pekerja juga belum menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Sekitar 64% angkatan kerja di Indonesia pada tahun 1998 berpendidikan SD ke bawah. Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya kualitas angkatan kerja lulusan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja, membawa permasalahan tersendiri.

Atas dasar berbagai masalah di atas, pemerintah membuat strategi kebijakan di bidang ketenagakerjaan sebagai berikut :

  1. Menciptakan lapangan kerja selaras dengan kebijakan ekonomi makro yang berlandaskan pada upaya pengurangan pengangguran di berbagai sektor dan wilayah.
  2. Meningkatkan kompetensi dan kemandirian tenaga kerja. Hal ini antara lain dilakukan melalui penyediaan pendidikan dan pelatihan.
  3. Meningkatkan kesejahtaraan tenaga kerja melalui sistem pengupahan dan penjaminan kesejahteraan pekerja.
  4. Meningkatkan perlindungan bagi pekerja yang secara langsung terlibat dalam proses produksi barang dan jasa, termasuk tenaga kerja anak dan wanita.
  5. Menata kembali sistem pelatihan, penempatan, pemantauan, dan perlindungan TKI yang bekerja di luar negeri.
  6. 4.      Pemerataan Pendapatan

Agar pemerataan pendapatan terwujud maka orientasi pembangunan harus dapat dilaksanakan secara merata ke seluruh wilayahIndonesiadengan lebih diarahkan pada perluasan kesempatan kerja, pembinaan pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan danperkotaan, serta peningkatan kemampuan penduduk untuk memanfaatkan sumber-sumber daya alam. Pembangunan prasarana ekonomi dan sosial perlu dibuat lebih merata ke seluruh wilayah tanah air. Perlu ditekankan juga pentingnya penggunaan teknologi tepat guna dalam usaha menciptakan kesempatan kerja.

Pesatnya laju pertumbuhan  ekonomi bila tidak diimbangi dengan pemerataan hasil-hasil pembangunan terutama distribusi pendapatan yang adil  maka tidak ada gunanya sebab hanya akan menimbulkan akibat-akibat sosial dan politik yang tidak menguntungkan dan akan membahayakan stabilitas pembangunan itu sendiri

Masalah keadilan termasuk distribusi pendapatan yang adil merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan untuk mencapai tujuan pembangunan setiap negara. Jika pembangunan tidak disertai dengan keadilan maka yang terjadi adalah kemakmuran dalam ketidakstabilan yaitu adanya kecenderungan terjadinya gap atau jurang pemisah yang semakin melebar antara yang kaya dan yang miskin dan sebaliknya jika pembangunan tidak diikuti dengan kemakmuran maka yang terjadi adalah keadilan dalam kemiskinan

Kebijaksanaan pemerintah unuk mencegah melebarnya jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin dilakukkan dengan delapan jalur pemerataan yang terdiri atas :

1)      pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan, sandang dan perumahan;

2)      pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan;

3)      pemerataan pembagian pendapatan;

4)      pemerataan kesempatan kerja;

5)      pemerataan kesempatan berusaha;

6)      pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita;

7)      pemerataan penyebaran pembangunan ke seluruh wilayah tanah air;

8)      pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

Dari delapan jalur pemerataan itu dapat dilihat bahwa pembangunan diIndonesiatidak lagi ditekankan pada pertumbuhan ekonomi semata-mata, tetapi juga pada pemerataan kesempatan kerja serta pemerataan hasil-hasil pembangunan ke segala lapisan rakyat. Pemerataan bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga di bidang lainnya.

      MASALAH KEMISKINAN, KETERBELAKANGAN, LAPANGAN KERJA, DAN PEMERATAAN PEMBANGUNAN DAN HASIL – HASILNYA

 

  1. Masalah kemiskinan

Gejala kemiskinan pada umumnya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :

  1. Sebagai suatu gejala sosial dan budaya

Gejala ini lebih terletak di dalam diri penduduk miskin itu sendiri, yakni berkatian degnan cara hidup dan perilaku serta keadaan yang ditimbulkan dari kemiskinan itu sendiri. Gejala  ini dapat dilihat misalnya:

-          Penduduk kebanyakan masih buta huruf

-          Kualitas gizi penduduk masih kurang

-          Penerangan dan sistem komunikasi kurang baik

  1. Sebagai suatu gejala ekonomi

Gejala ini berkaitan dengan lingkungan penduduk miskin yang ditandai kurangnya pendapatan sehingga banyak orang yang hidup pada tingkat subsistance (hidup pas-pasan).

  1. Jenis-jenis kemiskinan
  1. Kemiskinan mutlak (absolut),yaitu suatu ukuran kemiskinan dengan mendasarkan diri pada kebutuhan pokok/dasar minimum(minimum basic needs). Orang dikatakan miskin bila tingkat pendapatannya tidak dapat menutup kebutuhan hidup minimum atau dengan kata lain mereka hidup dibawah standar hidup minimum atau dibawah garis kemiskinan(penduduk yang termiskin)
  2. Kemiskinan relatif, menurut Miller diartikan suatu kemiskinan yang lebih banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan sekitarnya. Sehingga bisa saja terjadi seseorang dilihat dari tingkat pendapatannya telah dapat menutup tingkat kebutuhan dasar minimum akan tetapi pendapatan tersebut masih jauh lebih  rendah dibandingkan pendapatan masyarakat sekitarnya,ini berarti seseorang tersebut masih berada dalam keadaan miskin.
  3. Kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan adanya ketimpangan dalam struktur ekonomi suatu negara. Misalnya : rendahnya produksi masyarakat mengakibatkan tingkat pendapatan masyarakat juga rendah, adanya ketidakmerataan dalam distribusipendapatan nasional sehingga timbul jurang pemisah antara yang kaya dedngan yang miskin.
  4. Kemiskinan sosial budaya, yaitu kemiskinan yang dikaitkan dengan nilai-nilai budaya masyarakat. Misalnya: rendahnya etos kerja masyarakat. Misalnya : rendahnya etos kerja masyarakat menyebabkan hidupnya miskin, adanya kebiasaan hidup boros

 

4.  Masalah keterbelakangan

Keterbelakangan secara umum diartikan suatu kelambatan dalam perkembangan atau ketinggalan dalam kemajuan. Keterbelakangan berkaitan secara langsung dengan penduduk dalam suatu negara. Penduduk yang terbelakang diartikan penduduk sebagai faktor produksi tenaga kerja memiliki kualitas rendah (kurang profesional dan tidak efisien).Penduduk yang terbelakang ditandai dengan rendahnya tingkat pendidikan, kekurangan makan,rendahnya tingkat kesehatan, buta aksara dan rendahnya penilaian terhadap kerja.

 

5. Masalah pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya

Dewasa ini dalam menafsirkan makna pembangunan memang telah berubah tidak seperti dalam dasawarsa 1950-an dan 1960-an. Sekarang makna pembangunan ditafsirkan tidak hanya sekedar meningkatkan pertumbuhan (output) saja tetapi juga ditafsirkan suatu proses perubahan atau transformasi di dalam struktur, sikap-sikap dan nilai-nilai hidup serta mengurangi ketidak-adilan, mengikis habis kemiskinan absolut dan mengurangi pengangguran

Maka pembangunan sekarang lebih ditekankan pada usaha-usaha untuk memecahkan pengangguran, kemiskinan dan ketidak-adilan. Berbicara masalah pembangunan tak dapat dilepaskan dengan tujuan dari pembangunan itu sendiri yaitu keadilan, kemakmuran dan kestabilan

Keadilan dalam pembangunan menyangkut masalah menghilangkan kemiskinan (termasuk menghilangkan pengangguran) dan mewujudkan pemermataan. Sedangkan pemerataan menyangkut masalah distribusi pendapatan, distribusi kekayaan(assets) dan distribusi kekuatan(power). Keadilan (equity) lebih banyak menyangkut soal rasa dan etik atau psikologi dan keadilan berkaitan berkaitan dengan makna kesamaan (equality) dan perlakuan adil (fairness) dalam artian perbandingan yang proporsional antar hasil yang diperoleh dengan pengorbanan yang dilakukannya.

Jadi rasa adil dan diperlakukan adil bisa diukur dari distribusi pendapatan, kekayaan dan kekuatan. Ini berarti konsep keadilan dan pemerataan adalah sama, dan memang pada kenyataannya orang biasanya menafsirkan sama sebab pada hakikatnya keduanya menyangkut masalah kaya dan miskin yang dapat melahirkan kecemburuan sosial. Dan kecemburuan sosial ini bila tidak ditangani secara tuntas dan sungguh-sungguh akan membahayakan keamanan nasional, kesatuan nasional dan membahayakan demokrasi itu sendiri.

Dengan demikian keadilan menyangkut masalah norma, hak asasi dan demokrasi dalam masyarakat. Keadilan yang merupakan salah satu tujuan dari pembangunan jika tidak diikuti dengan kemakmuran maka yang terjadi adalah keadilan dalam kemiskinan, ini berarti pembangunan tidak berhasil atau gagal dan sebaliknya kemakmuran tanpa mewujudkan keadilan maka yang terjadi adalah kemakmuran dalam ketidak-stabilan, ini berarti juga dikatakan pembangunan tidak berhasil atau gagal

Berkaitan dengan masalah pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya maka syarat penting untuk mewujudkan tujuan pembangunan (adil, makmur dan stabil) harus ada pertumbuhan ekonomi sebab bila syarat itu tidak terwujud hal itu tidak ada gunanya karena yang diratakan adalah kemiskinan. Ini berarti bahwa pertumbuhan merupakan dasar yang kuat untuk mewujudkan keadilan dalam kemakmuran dan kemakmuran dalam kestabilan, sebaliknya pembangunan tanpa pemerataan juga tidak ada gunanya sebab hanya akan menimbulkan akibat-akibat sosial dan politik yang tidak menguntungkan yang akan membahayakan stabilitas pembangunan itu sendiri.

4. Permasalahan Pokok Yang Dihadapi Bangsa Indonesia

 

Kondisi yang dihadapi bangsa Indonesia sesudah tumbangnya rezim orde baru sangat kompleks serta bersifat multidimensional sehingga membutuhkan penanganan yang serius dan bersungguh-sungguh. Berdasarkan kondisi umum dan arah kebijakan dalam GBHN 1999-2004, dapat diidentifikasikan 5 (lima) permasalahan pokok yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, yaitu sebagai berikut :

  1. Merebaknya konflik sosial dan munculnya gejala disintegrasi bangsa
  2. Lemahnya penegakan hukum dan hak asasi manusia
  3. Lambatnya pemulihan ekonomi, ini disebabkan oleh 2 faktor, yaitu :

Pertama : Adanya campur tangan pemerintah yang terlalu besar telah mengakibatkan kedaulatan ekonomi tidak berada di tangan rakyat dan mekanisme pasar tidak berfungsi secara efektif

Kedua : Adanya kesenjangan ekonomi dan masih berkembangnya monopoli serta pemusatan kekuatan ekonomi di tangan sekelompok kecil masyarakat dan daerah tertentu

Faktor di luar ekonomi, seperti : belum stabilnya kondisi keamanan dan ketertibanmasyarakat, penegakan hukum yang masih lemah, dan banyaknya kasus KKN yang belum dapat diselesaikan.

Lambatnya pemulihan ekonomi mengakibatkan : pengangguran meningkat, hak dan perlindungan tenaga kerja tak terjamin, jumlah penduduk miskin membengkak, dan derajat kesehaan masyarakat menurun, terdapat indikasi meningkatnya kasus kurang gizi di kalangan penduduk usia bawah lima tahun yang dapat menurunkan kualitas fisik dan intelektual generasi mendatang

  1. Rendahnya kesejahteraan rakyat, meningkatnya penyakit sosial, dan lemahnya ketahanan budaya nasional.
  2. Kurang berkembangnya kapasitas pembangunan daerah dan masyarakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: